Untuk temen-temen yang mau DOWNLOAD makalah-makalah dibawah ini tinggal klik aja selesai deh,,,,, ๐Ÿ™‚

UU 5 Tahun 1960_ UUPA

KUH PERDATA

PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT , dan juga shalawat berangkaikan salam kepada Nabi Muhammad SAW, berkat rahmat dan hidayah-Nya lah kita dapat menyelesaikan tulisan ini.

Sudah menjadi tugas kita semua, untuk memulai ini dalam rangka meningkatkan pengetahuan kita tentang Pelaksanaan Fardu Kifayah, dan bagai mana mengaplikasikannya di dalam kehidupan kita.

Semoga Allah merahmati kita semua, dan tulisan ini berguna bagi kita semua.

ย 


PENYELENGGARAAN JENAZAH

ย ุงูŽู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‡ู ุฑูŽุจู‘ู ุงู’ู„ุนูŽุง ู„ูŽู…ููŠู’ู†ู’ ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽ ุฉู ูˆูŽุณู‘ูŽู„ุงูŽ ู…ู ุนูŽู„ูŽ ุงูŽุดู’ุฑูŽูู ุง ู„ู’ุงูŽู†ู’ุจููŠูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุฑู’ ุณูŽู„ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽ ุงูŽู„ูู‡ู ูˆูŽุตู’ุญูŽุจูู‡ู ุงูŽ ุฌู’ู…ูŽุนู’ูŠู’ู†ูŽ

Islam menjunjung tinggi martabat manusia, maka bayi yang lahir disambut dengan adzan dan iqamat, agar hidupnya selamat dari gangguan iblis laknatulah maka demikian pula bila manusia menemui ajalnya, jenazahnya wajib di urus sampai pada penguburan, dimana tata tertibnya sedemikian rupa. Fiman Alah SWT di dalam surat Al-Israโ€™ ayat 70 :

Artinya : โ€œDan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.โ€

Memang manusia punya kelebihan derajat dari seluruh makhluk yang lain, Allah berfirman dalam surat At-Tin ayat 4-6 :

Artinya : โ€œSesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.โ€

Dengan kelebihan martabat manusia ini jenazahnya pun ikut mendapat perlakuan khusus yang menjadi keweajiban umat islam yang hidup untuk menyelenggarakannya.

Penyelenggaraan jenazah itu terdiri dari :

  1. Memandikan
  2. Mengkafani
  3. Menyalatkan, dan
  4. Menguburkan

Sebelum kita mempelajari kafiat penyelenggaraan jenazah ini, marilah kita perhatikan apa yang perlu kita lakukan sebelumnya yang terdiri dari :

  1. Ketika sekarat (akan meninggal dunia)
  2. Sesaat setelah meninggal dunia.

1.ย ย  KETIKA SEKARAT (AKAN MENINGGAL DUNIA)

Ketika seseorang sekarat lakukanlah :

  1. Menyebutkan kalimat-kalimat Allah
  2. Baca surat Yasin
  3. Doakan dan mohon ampun atas dosa-dosanya
  4. Hadapkan ia kearah kiblat atau miringkan ia kearah kanan sehingga mukanya menghadap kiblat
  5. Talkinkan dengan kalimat ( ู„ุงูŽ ุงูู„ูŽู‡ูŽ ุงูู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‡ )

( Ingat : jangan terlalu sering dan jangan cepat dan dengan suara lemah lembut. )

2.ย ย ย ย  SESAAT SETELAH MENINGGAL DUNIA

Sesaat setalah meniggal dunia kewajiban kita adalah melakukan fardu kifayah yang terdiri dari 4 bagian, yakni :

  1. Memandikan
  2. Mengkafani
  3. Menyalatkan, dan
  4. Menguburkan

A.ย ย ย  TATA CARA MEMANDIKAN JENAZAH

Tata cara memandikan jenazah terdiri dari beberapa tahap yakni antara lain seperti yang akan kita jelaskan di bawah ini :

  1. Jenazah kita letakkan di atas tempat pemandian dengan menghadap ke kiblat.
  2. Posisi jenazah disaat dimandikan yakni terlentang dengan posisi kepala lebih tinggi dari kaki.
  3. Membersihan atau menyucikan mulut jenazah dengan kain pencuci yang telah di sediakan sampai bersih.
  4. Membersikan atau menyucikan kedua lubang hidung, dengan didahulukan dari sebelah kanan kemudian yang sebelah kiri sampai bersih.
  5. Membersihkan atau menyucikan kedua mata dengan mendahulukan kanan kemudian kiri.
  6. Membersihkan kedua belah kuping dengan mendahulukan kemudian yang kiri.
  7. Membersihkan atau menyucikan kemaluan ( qubul) dengan menggunakan kain pencuci sampai bersih sebanyak tiga kali.
  8. Membersihkan atau menyucikan duburย  sebanyak tiga kali sampai bersih dengan menggunakan kain pencuci yang telah di sediakan, dengan cara menekan-nekan perut sehingga isi atau kotoran yang ada di dalam perut semuanya keluar sampai bersih.
  9. Setelah di sucikan, kemudian jenazah di wudhukan lalu jenazah dimulai untuk dimandikan dengan niat.

ู†ูŽูˆูŽ ูŠู’ุชู ุงู„ู’ุบูุณู’ู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽ ุงู’ู„ู…ูŽูŠู‘ูุชู ููŽุฑู’ุถูŽ ุง ู„ู’ูƒูููŽุง ูŠูŽุฉู ุงูู„ู„ู‡ู ุชูŽุนูŽู„ูŽู‰

( untuk jenazah laki-laki)

ู†ูŽูˆูŽ ูŠู’ุชู ุงู„ู’ุบูุณู’ู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽูŠู‘ูุชูŽุฉู ููŽุฑู’ุถูŽ ุง ู„ู’ูƒูููŽุง ูŠูŽุฉู ุงู„ูู„ู‡ู ุชูŽุนูŽู„ูŽู‰

( untuk jenazah perempuan )

ู†ูŽูˆูŽ ูŠู’ุชู ุงู„ู’ุบูุณู’ู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽ ุงู„ุทููู’ู„ู ููŽุฑู’ุถูŽ ุง ู„ู’ูƒูููŽุง ูŠูŽุฉู ุงู„ูู„ู‡ู ุชูŽุนูŽู„ูŽู‰

( untuk jenazah anak laki-laki)

ู†ูŽูˆูŽ ูŠู’ุชู ุงู„ู’ุบูุณู’ู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุทููู’ู„ูŽุชููŠู’ ููŽุฑู’ุถูŽ ุง ู„ู’ูƒูููŽุง ูŠูŽุฉู ุงู„ูู„ู‡ู ุชูŽุนูŽู„ูŽู‰

( untuk jenazah anak perempuan )

  1. Setelah melakukan niat, kemudian :
    1. menyiramkan air atas jenazah mulai dari kepala hingga kaki dengan mendahulukan yang kanan hingga basah keseluruhan tubuhnya. Kemudian tubuh jenazah disabun dengan sabun biasa yang telah yang telah dicairkan hingga berbusa dan digosok keseluruh badan atau tubuh jenazah, setelah itu baru di siram dengan air bersih hingga busa sabun hilang bersama kotoran.
    2. Kemudian kembali gosok badan si jenazah lalu siram dengan air biasa kemudian basuh dengan air busa sabun harum, lalu gosok keseluruh badan atau tubuh si jenazah, kemudian siram kembali dengan air biasa hingga air sabun hilang dan bersih semuanya.
    3. Kemudian yang terakhir adalah memberi air sembilan yakni :

a).ย ย ย  Siram 3 x dengan air yang bercampur air limau

b).ย ย ย  Siram 3 x dengan air yang bercampur dengan kemenyan, dan

c).ย ย ย  Siram 3 x dengan air bercampur dengan kapur barus

  1. Jika telah selesai di mandikanย  ternyata masih keluar najis maka bersihkan najisnya dengan dimandikan kembali, tapi bila diatas kai kafan ternyata keluar najis, cukup dengan membersihkan najisnya saja.
  2. Setelah selesai dimandikan kemudian jenazah di wudhukan dengan niat.

ู†ูŽูˆูŽูŠู’ุชู ุงู„ู’ูˆูุถููˆู’ุกู ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูŠู‘ูุชู ู„ูุฑูŽูู’ุนู ุงู„ู’ุญูŽุฏูŽุซู ุงู„ู’ุฃูŽ ุตู’ุบูŽุฑู ููŽุฑู’ุถูŽ ุงู„ู’ูƒูููŽุงูŠูŽุฉู ุงู„ูู„ู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰

  1. Bila telah selesai dimandikan, badan jenazah hendaknya diseka dengan kain atau handuk agar air jadi kering.

Catatan :

  1. 1.ย ย ย ย ย ย  Jenazah yang di mandikan harus :

B.ย ย ย ย  MENGKAFANI JENAZAH

  1. Jumlah kain kafan
  1. Tinggikan bagian kepala dari kaki si jenazah
  2. Tutup badan si jenazah dengan kain dari dada sampai lutut.
  3. Niat wudhu tergantung jenazah yang dimandikan, apakah laki-laki atau perempuan, atau anak-anak.

Jenis Kain

Untuk

Laki-Laki

Perempuan

Hamparan

3 Lembar

2 lembar

Baju

1 lembar

1 lembar

Sarung

1 lembar

Topi/sorban

1 lembar

Telekung

1 lembar

Pencuci (ukuran, 20 x 50 cm) ))cm 50 cm)

3 lembar

3 lembar

Tali pencuci

7 buah

7 buah

Tali pengikat

5 helai

5 helai

  1. Doโ€™a memulai menggunting kain kafan :

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุฌู’ุนูŽู„ู’ ู„ูุจูŽุง ุณูŽู‡ู (ู‡ุง) ุนูŽู†ู ุงู„ู’ูƒูŽุฑููŠู’ู…ู ูˆูŽุงูŽุฏู’ุฎูู„ู’ู‡ู (ู‡ุง) ูŠูŽุงุงูŽู„ู„ู‡ู ุจูุฑูŽุญู’ู…ูŽุชููƒูŽ ูŠูŽุงุงูŽุฑู’ุญูŽู…ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุญูู…ููŠู’ู†ูŽ

  1. Kain kafan dibentangkan dan taburi masing-masing lembaran dengan wangi-wangian seperti kapur barus dan sebagainya.
  2. Angkat jenazah dalam kaadaan tubuhnya ditutup dengan kain
  3. Taruh kapas yang telah ditaburkan kapur barus dan kemenyan, pada kedua telapak tangan, siku, ketiak, leher, kedua telinga, seluruh mukanya, dubur, kubul, lutut dan telapa kaki.
  4. Tangan lipat antara dada dan pusat seperti dalam keadaan shalat
  5. Bila ada jenazah yang bungkuk, jangan dipaksakan meluruskannya.
  6. Cukupkan hamparannya mulai dari lapisan paling dalam, kemudian lapisan-lapisan berikutnya dan boleh juga seluruh hamparan digulung sekaligus, mulai dari kepala sampai ke kaki, cara menggulung kain kafan yakni mulai dari kepala sampai pusat digulng kearah kiri dan mulai dari pusat sampai ke kaki digulung kearah kanan, kemudian di ikat pada ujung kepala, dada, pinggang, lutut, dan ujung kaki.
  7. Boleh disiram dengan minyak wangi-wangian yang tidak mengandung alkohol.

C.ย ย ย  MENYEMBAHYANGKAN JENAZAH

  1. Mengantar/membawa jenazah
  1. Setelah jenazah selesai dikafani maka jenazah diangkat dengan kepala jenazah disebelah muka, lalu diletakkan didalam keranda untuk menunggu acara pemberangkatan.
  2. Waktu jenazah hendak diberangkatkan imam membaca :

ุงูู„ู‰ูŽ ุญูŽุถู’ุฑูŽุฉู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู ุงู„ู’ู…ูุตู’ุทูŽููŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠูู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุงูŽู„ูู‡ู ูˆูŽุงุตู’ุญูŽุงุจูู‡ู ุงูŽุฌู’ู…ูŽุนููŠู’ู†ูŽ ุงูŽู„ู’ููŽุงุชูุญูŽู‡ู’

Lalu seluruh jemaah menengadahkan tangan seraya membaca Al-Fatihah dan setelah selesai, tanpa diusap kemuka sementara keranda atau usungan jenazah di majukan kemuka selangkah.

  1. Sesudah itu imam membaca lagi :

ุซูู…ู‘ูŽ ุงูู„ูŽู‰ ุงูŽุฑู’ูˆูŽุงุญู ุงูŽุจูŽุงุฆูู†ูŽุง ูˆูŽุงูู…ู‘ูŽู‡ูŽุชูู†ูŽุง ูˆูŽุงูŽู„ูŽู‰ ุงูŽุฑู’ูˆูŽุงุญู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽุงุชู ุงูŽู„ู’ููŽุงุชูุญูŽู‡ู’

Jamaah melakukan seperti pembacaan Al-Fatihah pertama dan keranda jenazah dimajukan selangkah lagi.

  1. Imam lalu membaca lagi :

ุซูู…ู‘ูŽ ุงูู„ู‰ูŽ ุฑููˆู’ุญู (ูู„ุงู† ุจู† ูู„ุงู† atau ูู„ุงู†ุฉ ุจู†ุช ูู„ุงู†) ุงูู„ู’ููŽุงุชูุญูŽู‡ู’

Lalu usungan atau keranda diangkat keatas bahu dan jangan berjalan dulu sementara para jamaah menengadahkan tangan dengan membaca Al-Fatihah, lalu mengusap muka setelah selesai membaca surat Al-Fatihah, kemudian yang terakhir imam membaca Doa.

  1. Selesai membaca doa barulah usungan dibawa ketempat pemakaman dan seluruh jamaah mengikuti dari belakang dengan bersama-sama membaca dzikir.
  1. Menyalatkan.
  1. Letakkan jenazah dimuka imam, bila jenazah laki-laki imam berdiri setentang kepala jenazah dan bila jenazahnya perempuan imam berdiri setentang pusat/pinggang, kemudian makmum membentuk shaf dibelakang imam.
  2. Bila jenazah laki-laki kepalanya sebelah kiri imam, dan bila jenazah perempuan kepalanya sebelah kanan imam.
  3. Shalat jenazah boleh dilakukan berkali-kali baik jenazah ada ditempat atau jenazah ghaib.
  4. Sebelum shalat jenazah dimulai bilal berucap :

ุงูŽุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ุฌูŽู†ูŽุงุฒูŽุฉูŽ ุฑูŽุญูู…ูŽูƒูู…ู ุงู„ู„ู‡ู’ ุงูŽู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ู„ูŽุงุงูู„ูŽู‡ูŽ ุงูู„ุงู‘ูŽุงู„ู„ู‡ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏูŽ ุฑู‘ูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู

  1. Niat shalat jenazah adalah sebagai berikut :

รผย  Niat shalat jenazah untuk laki-laki dewasa.

ุงูุตูŽู„ู‘ูู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽูŠู‘ูุชู ุงูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ุชูŽูƒู’ุจููŠู’ุฑูŽุงุชู ููŽุฑู’ุถูŽ ุงู„ู’ูƒูููŽุงูŠูŽุฉู ู„ูู„ู‡ู ุชูŽุนูŽู„ู‰ูŽ โ€“

ุงูŽู„ู„ู‡ู ุงูŽูƒู’ุจูŽุฑู’

รผย  Niat shalat jenazah untuk perempuan dewasa.

ุงูุตูŽู„ู‰ู‘ู ุนูŽู„ู‰ูŽ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽูŠู‘ูุชูŽุฉู ุงูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ุชูŽูƒู’ุจููŠู’ุฑูŽุงุชู ููŽุฑู’ุถูŽ ุงู„ู’ูƒูููŽุงูŠูŽุฉู ู„ูู„ู‡ู ุชูŽุนูŽู„ู‰ูŽ โ€“ ุงูŽู„ู„ู‡ู ุงูŽูƒู’ุจูŽุฑู’

ย 

รผย  Niat untuk jenazah anak laki-laki

ุงูุตูŽู„ู‰ู‘ู ุนูŽู„ู‰ูŽ ู‡ูŽุฐูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูŠู‘ูุชู ุงู„ุทู‘ููู’ู„ู ุงูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ุชูŽูƒู’ุจููŠู’ุฑูŽุงุชู ููŽุฑู’ุถูŽ ุงู„ู’ูƒูููŽุงูŠูŽุฉู ู„ูู„ู‡ู ุชูŽุนูŽู„ู‰ูŽ โ€“ ุงูŽู„ู„ู‡ู ุงูŽูƒู’ุจูŽุฑู’

รผย  Niat untuk jenazah anak perempuan

ุงูุตูŽู„ู‰ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ู…ูŽูŠู‘ูุชูŽุฉู ุงู„ุทููู’ู„ูŽุฉู ุงูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ุชูŽูƒู’ุจููŠู’ุฑูŽุงุชู ููŽุฑู’ุถูŽ ุงู„ู’ูƒูููŽุงูŠูŽุฉู ู„ูู„ู‡ู ุชูŽุนูŽู„ู‰ูŽ โ€“ ุงูŽู„ู„ู‡ู ุงูŽูƒู’ุจูŽุฑู’

รผย  Niat untuk dua orang jenazah ย sekali shalat

ุงูุตูŽู„ู‘ูู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽูŠู’ู†ู ุงู„ูŽู…ูŽูŠู‘ูุชูŽูŠู’ู†ู ุงูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ุชูŽูƒู’ุจููŠู’ุฑูŽุงุชู ููŽุฑู’ุถูŽ ุงู„ู’ูƒูููŽุงูŠูŽุฉู ู„ูู„ู‡ู ุชูŽุนูŽู„ู‰ูŽ โ€“ ุงูŽู„ู„ู‡ู ุงูŽูƒู’ุจูŽุฑู’

รผย  Niat untuk tiga orang jenazah atau lebih sekali shalat

ุงูุตูŽู„ู‰ู‘ู ุนูŽู„ู‰ูŽ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุงูŽู…ู’ูˆูŽุงุชู ุงูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ุชูŽูƒู’ุจููŠู’ุฑูŽุงุชู ูู‹ุฑู’ุถูŽ ุงู„ู’ูƒูููŽุงูŠูŽุฉู ู„ูู„ู‡ู ุชูŽุนูŽู„ู‰ูŽ โ€“ ุงูŽู„ู„ู‡ู ุงูŽูƒู’ุจูŽุฑู’

รผย  Shalat ghaib

ุงูุตูŽู„ู‰ู‘ู ุนูŽู„ู‰ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูŠู‘ูุชู ย ุงู„ู’ุบูŽุงุฆูุจู ุงูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ุชูŽูƒู’ุจูŽูŠู’ุฑูŽุงุชู ููŽุฑู’ุถูŽ ุงู„ู’ูƒูููŽุงูŠูŽุฉู ู„ูู„ู‡ู ุชูŽุนูŽู„ู‰ูŽ โ€“ ุงูŽู„ู„ู‡ู ุงูŽูƒู’ุจูŽุฑู’

รผย  ย Niat untuk shlalat ghaib dan diketahui jenazahnya

ุงูุตูŽู„ู‰ู‘ู ุนูŽู„ู‰ูŽ ุงู„ู…ูŽูŠู‘ูุชู ููู„ุงูŽู†ู ุงู„ุบูŽุงุฆูุจู ุงูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ุชูŽูƒู’ุจููŠู’ุฑูŽุงุชู ููŽุฑู’ุถูŽ ุงู„ู’ูƒูููŽุงูŠูŽุฉู ู„ูู„ู‡ู ุชูŽุนูŽู„ู‰ูŽ โ€“ ุงูŽู„ู„ู‡ู ุงูŽูƒู’ุจูŽุฑู’

รผย  Beberapa jenazah ghaib tetapi tidak diketahui atau tidak tentuย  orangnya

ุงูุตูŽู„ู‰ู‘ู ุนูŽู„ู‰ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ุงู„ู’ูŠูŽูˆู’ู…ู ูˆูŽุบูุณูู„ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู’ู†ูŽ ุงูŽุฑู’ุจูŽุนูŽ ุชูŽูƒู’ุจููŠู’ุฑูŽุงุชู ููŽุฑู’ุถูŽ ุงู„ู’ูƒูููŽุงูŠูŽุฉูุค ู„ูู„ู‡ู ุชูŽุนูŽู„ู‰ูŽ โ€“ ุงูŽู„ู„ู‡ู ุงูŽูƒู’ุจูŽุฑู’

  1. Sesudah takbir pertama baca surah Al-Fatihah
  2. Takbir kedua dengan membaca

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุตู‘ู„ู‘ูู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงูŽู„ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูƒูŽู…ูŽุง ุตูŽู„ู‘ูŽูŠู’ุชูŽ ุนูŽู„ู‰ูŽ ุงูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู’ู…ูŽ ูˆูŽุนูŽู„ู‰ูŽ ุงูŽู„ู ุงูุจู’ุฑูŽุงู‡ููŠู’ู…ูŽ ูˆูŽุจูŽุงุฑููƒู’ ุนูŽู„ู‰ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽุนูŽู„ู‰ูŽ ุงูŽู„ู ู…ูŽุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูƒูŽู…ูŽุง ุจูŽุงุฑูŽูƒู’ุชูŽ ุนูŽู„ู‰ูŽ ุงูุจู’ุฑูŽู‡ููŠู’ู…ูŽ ูˆูŽุนูŽู„ู‰ูŽ ุงูŽู„ู ุงูุจู’ุฑูŽู‡ููŠู’ู…ูŽ ููู‰ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽ ุงูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุญูŽู…ููŠู’ุฏู ู…ู‘ูŽุฌููŠู’ุฏูŒ

Atau sekurang-kurangnya dengan membaca :

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุตูŽู„ู‰ู‘ู ุนูŽู„ู‰ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽ ุนูŽู„ู‰ูŽ ุงูŽู„ู ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู

  1. Takbir yang ketiga, kemudian membaca doa ini.

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุฑู’ุญูŽู…ู’ู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุนูŽุงููู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุนู’ูู ุนูŽู†ู’ู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุงูŽูƒู’ุฑูู…ู’ ู†ูุฒูู„ูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽูˆูŽุณู‘ูุนู’ ู…ูŽุฏู’ุฎูŽู„ูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุบู’ุณูู„ู’ู‡ู (ู‡ุง) ุจูุงู„ู’ู…ูŽุงุกู’ ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽู„ู’ุฌู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุฑูŽุฏู ูˆูŽู†ูŽู‚ู‘ูู‡ู (ู‡ุง) ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทูŽุงูŠูŽุง ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูู†ูŽู‚ู‘ูŽ ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุจู ุงู„ู’ุงูŽุจู’ูŠูŽุถู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏู‘ูŽู†ูŽุณู ูˆูŽุงูŽุจู’ุฏูู„ู’ู‡ู (ู‡ุง) ุฏูŽุงุฑู‹ุงุฎูŽูŠู’ุฑู‹ ู…ูู†ู’ ุฏูŽุงุฑูู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุงูŽู‡ู’ู„ู‹ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ ู…ูู†ู’ ุงูŽู‡ู’ู„ูู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุฒูŽูˆู’ุฌู‹ุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฒูŽูˆู’ุฌูู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุงูŽุฏู’ุฎูู„ู’ู‡ู (ู‡ุง) ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ูˆูŽุงูŽุนูุฐู‘ูู‡ู (ู‡ุง) ู…ูู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู’ู‚ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽููุชู’ู†ูŽุฉู ู…ูŽู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู.

Atau sekurang-kurangnya dengan membaca :

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุฑู’ุญูŽู…ู’ู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุนูŽุงููู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุนู’ูู ุนูŽู†ู’ู‡ู (ู‡ุง)

Dan apabila jenazah anak-anak doa yang dibaca pada takbir yang ketiga ini adalah sebagai berikut :

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุฌู’ุนูŽู„ู’ู‡ู (ู‡ุง) ููŽุฑูŽุทู‹ ู„ูุงูŽุจูŽูˆูŽูŠู’ู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุณูŽู„ูŽูู‹ุงูˆูŽุฐูุฎู’ุฑูŽุงุฉู‹ ูˆูŽุนูุธูŽุฉู‹ ูˆูŽุดูŽูููŠู’ุนู‹ุง ู…ูุดู’ููุนูŽุง ู„ูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุซูŽู‚ู‘ูู„ู’ ุจูู‡ู (ู‡ุง) ู…ูŽูˆูŽุง ุฒููŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ูˆูŽุงูŽูู’ุฑูุบู ุงู„ุตู‘ูŽุจู’ุฑูŽ ููู‰ ู‚ูู„ููˆู’ ุจูู‡ูู…ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุงุชูŽูู’ุชูู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุญู’ุฑูู…ู’ู†ูŽุง ุงูŽุฌู’ุฑูŽู‡ู (ู‡ุง).

Dan doa ini pulalah yang dibaca imam sesudah shalat jenazah

  1. Doa pada takbir keempat sesudahnya baca doa :

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู„ูŽุง ุชูŽุญู’ุฑูู…ู’ู†ูŽุง ุงูŽุฌู’ุฑูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽู„ุงูŽุชูŽูู’ุชูู†ู‘ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ูŽู‡ู (ู‡ุง)

Dan doโ€™anya boleh ditambah dengan :

ูˆูŽุงุฌู’ุนูŽู„ู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ู…ูŽุซู’ูˆูŽุงู‡ู (ู‡ุง) ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ูุงูุฎู’ูˆูŽู†ูู†ูŽุงุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ุณูŽุจูŽู‚ููˆู’ู†ูŽุง ุจู ู„ุงู’ุกููŠู’ู…ูŽุงู†ูŽ ูˆูŽู„ุงูŽุชูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ ูููŠู’ ู‚ูู„ููˆู’ ุจูู†ูŽุง ุบูู„ู‘ูŽุงู„ูู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ุงูŽู…ูŽู†ููˆู’ุง ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุงูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุฑูŽุคููู ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…ู.

  1. Kemudian disambung dengan doโ€™a selesai salam, yang di pimpin oleh imam.

D.ย ย ย  MENGUBURKAN JENAZAH

  1. Kuburan yang digali, dibuat melintang pada kiblat shalat dengan ukuran dalamnya :
  2. Sunat dibuat liang lahat disamping atau ditengah bila tanahnya mudah longsor, yang besarnya muat untuk masuk jenazah
  1. Pria dewasa setinggi dada ยฑ 150 cm.
  2. Perempuan seitnggi bahu.
  3. Kanak-kanak setinggi pinggang

letak liang lahat

  1. Jika tanah mudah longsor atau berair, maka jenazah boleh diletakkan dalam peti mati.
  2. Jenazah muslim dikubur pada lokasi pemakaman muslim. Dan yang mati syahid dikubur ditempat ia gugur.
  3. Jenazah dimasukkan dalam kubur dari sebelah kaki dan membaca doa :

ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุญููŠู…ู ูููŠู’ ุณูŽุจููŠู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุนูŽู„ู‰ูŽ ู…ูู„ู‘ูŽุฉู ุฑูŽุณููˆู’ ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‰ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ู’ ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงูŽุฎู’ุฑูุฌู’ู†ูŽุง ู…ูู†ู’ ุนูŽุฐูŽุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ูˆูŽุดูŽุฑู‘ู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌููŠู’ู…ู ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุง ูู’ุชูŽุญู’ ุงูŽุจู’ูˆูŽุงุจูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ู„ูุฑููˆู’ุญูู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽูˆูŽุณู‘ูุนู’ ู…ูŽุฏู’ุฎูŽู„ูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽูˆูŽุณู‘ูุนู’ ู‚ูŽุจู’ุฑูู‡ู (ู‡ุง) ุจูุฑูŽุง ุญู’ู…ูŽุชููƒูŽ ูŠูŽุงุงูŽุฑู’ุญูŽู…ูŽ ุฑู‘ูุญูู…ููŠู’ู†ูŽ

  1. Waktu memasukkan jenazah perempuan dalam kubur hendaklah :
  2. Waktu jenazah diletakkan dalam liang lahat bacalah :
  1. Yang memasukkan dalam kubur hendaklah oleh muhrimnya.
  2. Dengan memakai teras pada lubang kubur.

ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‡ู ู…ูู„ู‘ูŽุฉูŽ ุฑูŽุณููˆู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู

  1. Setelah mait diletakkan dalam liang lahat lalu miringkan badanya dengan sisi kanannya dibawah sehingga sisi kirinya terletak disebelah atas, maka bukalah tali penutup di kepala, di dada, dilutut, dan di kakinya. Kemudian lepas dan kumpulkan di kakinya, sementara tali setentang pinggang cukup ikatan/buhulnya dibuka tapi jangan di lepas.
  2. Kemudian kain kafan dibagian mukanya di buka sehingga pipi kanannnya menyentuh ketanah, dan setentang hidungnya letakkanย  3 buah genggam tanah yang telah disediakan sebelumnya dimana pada setiap genggam tanah itu dibacakan doa sebagai berikut :
  1. Genggam pertama dengan membaca :

ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ู†ูŽุงูƒูู…ู’. ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู„ูŽู‚ูู†ู’ู‡ู ุนูู†ู’ุฏูŽุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฆูŽุงูŽู„ูŽุฉู ุญูุฌู‘ูŽุชูŽู‡ู (ู‡ุง)

  1. Pada tanah kedua baca atasnya :

ูˆูŽู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู†ูŽุนูุฏููƒูู…ู’. ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงูู’ุชูŽุญู’ ุงูŽุจู’ูˆูŽุงุจูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุง ุกู ู„ูุฑููˆู’ ุญูู‡ู (ู‡ุง)

  1. Pada tanah yang ketiga yakni dengan membaca :

ูˆูŽู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ู†ูุฎู’ุฑูุฌููƒูู…ู’ ุชูŽุงุฑูŽุฉู‹ ุงูุฎู’ุฑูŽุง. ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฌูŽุงูู ุงู„ู’ุงูŽุฑู’ุถูŽ ุนูŽู†ู’ ุฌูŽู†ู’ุจูŽูŠู’ู‡ู (ู‡ุง)

  1. Sesudah itu baru tanah ditimbun, menjelang tanah hampir rata maka baca surah yasin secara berjamaโ€™ah, disusun dengan membaca takhtim dan tahlil. Baru kemudian disusul dengan membaca doa.
  2. Tanah kuburan sebaiknya ditinggikan sedikit dari permukaan tanah hingga membentuk gundukan sebagai tanda dan boleh diberi tanda dengan menggunakan batu.

E.ย ย ย ย  DOA UNTUK JENAZAH

ุงูŽู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‡ู ุฑูŽุจู‘ูุงู„ู’ุนูŽุง ู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุณู‘ูŽู„ุงูŽู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงูŽุดู’ุฑูŽูู ุงู„ู’ุงูŽู†ู’ุจููŠูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูุฑู’ ุณูŽู„ููŠู’ู†ูŽ ุณูŽูŠู‘ูุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู’ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุงูŽู„ูู‡ู ูˆูŽุตู’ุญูŽุจูู‡ู ุงูŽุฌู’ู…ูŽุนููŠู’ู†ูŽ. ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงูŽู†ู’ุชูŽ ุฑูŽุจู‘ูู‡ู ูˆูŽุงูŽู†ู’ุชูŽ ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ุชูŽู‡ู ูˆูŽุงูŽู†ู’ุชูŽ ุฑูŽุฒูŽู‚ู’ุชูŽู‡ู ูˆูŽุงูŽู†ู’ุชูŽ ู‡ูŽุฏูŽูŠู’ุชูŽู‡ู ู„ูู„ู’ุงูุณู’ู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุงูŽู†ู’ุชูŽ ู‚ูŽุจูŽุถู’ุชูŽ ุฑููˆู’ุญูŽู‡ู ูˆูŽุงูŽู†ู’ุชูŽ ุงูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูุณูุฑู‘ูู‡ู ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ู†ููŠู‘ูŽุชูู‡ู. ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ุฌูุฆู’ู†ูŽุงูƒูŽ ุดูููŽุนูŽุงุกูŽ ู„ูŽู‡ู ููŽุบู’ููุฑู’ู„ูŽู‡ู (ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงูู’ุชูŽุญู’ ุงูŽุจู’ูˆูŽุงุจูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู’ ู„ูุฑููˆู’ุญู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ู…ูŽูŠู’ุชู)3x ุงูŽู„ู‘ูŽู„ู‡ู‘ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ู„ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูŽููŽุนู’ ุฏูŽุฑูŽุฌูŽุชูŽู‡ู ููู‰ ุงู„ู’ู…ูŽู‡ู’ุฏููŠู‘ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงุฎู’ู„ููู’ู‡ู ุนูŽู‚ูุจูู‡ู ุงู„ู’ุบูŽุงุจูุฑููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูŠูŽุง ุฑูŽุจู‘ูŽู„ู’ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงูู’ุณูŽุญู’ ู„ูŽู‡ู ููู‰ ู‚ูŽุจู’ุฑูู‡ู ูˆูŽู†ูŽูˆู‘ูุฑู’ ู„ูŽู‡ู ูููŠู’ู‡ู.

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุฑู’ุญูŽู…ู’ู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุนูŽุงููู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุนู’ูู ุนูŽู†ู’ู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุงูŽูƒู’ุฑูู…ู’ ู†ูุฒูู„ูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽูˆูŽุณู‘ูุนู’ ู…ูŽุฏู’ุฎูŽู„ูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุบู’ุณูู„ู’ู‡ู (ู‡ุง) ุจูุงู„ู’ู…ูŽุงุกู’ ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽู„ู’ุฌู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุฑูŽุฏู ูˆูŽู†ูŽู‚ู‘ูู‡ู (ู‡ุง) ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทูŽุงูŠูŽุง ูƒูŽู…ูŽุง ูŠูู†ูŽู‚ู‘ูŽ ุงู„ุซู‘ูŽูˆู’ุจู ุงู„ู’ุงูŽุจู’ูŠูŽุถู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฏู‘ูŽู†ูŽุณู ูˆูŽุงูŽุจู’ุฏูู„ู’ู‡ู (ู‡ุง) ุฏูŽุงุฑู‹ุงุฎูŽูŠู’ุฑู‹ ู…ูู†ู’ ุฏูŽุงุฑูู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุงูŽู‡ู’ู„ู‹ ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ ู…ูู†ู’ ุงูŽู‡ู’ู„ูู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุฒูŽูˆู’ุฌู‹ุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฒูŽูˆู’ุฌูู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุงูŽุฏู’ุฎูู„ู’ู‡ู (ู‡ุง) ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ูˆูŽุงูŽุนูุฐู‘ูู‡ู (ู‡ุง) ู…ูู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู’ู‚ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽููุชู’ู†ูŽุฉู ู…ูŽู†ู’ ุนูŽุฐูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู.

Doa untuk mayyit anak-anak:

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุฌู’ุนูŽู„ู’ู‡ู (ู‡ุง) ููŽุฑูŽุทู‹ ู„ูุงูŽุจูŽูˆูŽูŠู’ู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุณูŽู„ูŽูู‹ุงูˆูŽุฐูุฎู’ุฑูŽุงุฉู‹ ูˆูŽุนูุธูŽุฉู‹ ูˆูŽุดูŽูููŠู’ุนู‹ุง ู…ูุดู’ููุนูŽุง ู„ูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุซูŽู‚ู‘ูู„ู’ ุจูู‡ู (ู‡ุง) ู…ูŽูˆูŽุง ุฒููŠู’ู†ูŽู‡ูู…ูŽุง ูˆูŽุงูŽูู’ุฑูุบู ุงู„ุตู‘ูŽุจู’ุฑูŽ ููู‰ ู‚ูู„ููˆู’ ุจูู‡ูู…ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุงุชูŽูู’ุชูู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุญู’ุฑูู…ู’ู†ูŽุง ุงูŽุฌู’ุฑูŽู‡ู (ู‡ุง).

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุฌู’ุนูŽู„ู’ย  ู‚ูŽุจู’ุฑูŽู‡ู (ู‡ุง) ุฑูŽูˆู’ุถูŽุฉู‹ ู…ู‘ูู†ู’ ุฑู‘ููŠูŽุงุถู ุงู„ู’ุฌูŽู†ู’ุฉู ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ ู‚ูŽุจู’ุฑูŽู‡ู (ู‡ุง) ุญููู’ุฑูŽุฉู‹ ู…ู‘ูู†ู’ ุญููู‘ูŽุฑู ุงู„ู†ู‘ูุฑูŽุงู†ู.

ุงูŽู„ู‘ูŽู„ู‡ูู…ู‘ูŽ ุงูŽู†ู’ุฒูู„ู’ ููู‰ ู‚ูŽุจู’ุฑูู‡ูย  (ู‡ุง) ู†ููˆู’ุฑู‹ุง ูˆู‘ูŽู‡ูุฏู‹ุง ูˆู‘ูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ุงูู„ูŽู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู.

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู„ูŽุง ุชูŽุญู’ุฑูู…ู’ู†ูŽุง ุงูŽุฌู’ุฑูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽู„ุงูŽุชูŽูู’ุชูู†ู‘ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ู (ู‡ุง) ูˆูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ูŽู‡ู (ู‡ุง)

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุซูŽุจู‘ูุชู’ู‡ู (ู‡ุง) ุจูู‚ูŽูˆู’ู„ู ุงู„ุซู‘ูŽุงุจูุชู’ 3x ูŠูุซูŽุจู‘ูุชู ุงู„ู„ู‡ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ุฃูŽู…ูŽู†ููˆู’ุง ุจูุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ุงู„ุซู‘ูŽุงุจูุชู.

ุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุฌู’ุนูŽู„ู’ู‡ู (ู‡ุง) ู„ูŽู‡ู (ู‡ุง) ููุฏูŽุงุกู‹ ู…ู‘ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ูˆูŽู†ููˆู’ุฑู‹ุง ููู‰ ู„ู’ู‚ูŽุจู’ุฑู ูˆูŽู‡ูุฏู‹ุงูˆู‘ูŽุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ุงูู„ูŽู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ูˆูŽุธูู„ุงู‘ู‹ ููู‰ ุดูุฏู‘ูŽุฉู ูŠูŽูˆู’ู…ูู„ู’ ู…ูŽุญู’ุดูŽุฑูุง ูˆูŽุนูุฏู‘ูŽุฉู‹ ุงูู„ูŽู‰ ุตูุฑูŽุงุทู ุงู„ู…ู‘ูุณู’ุชูŽู‚ููŠู’ู…ู ูˆูŽู…ูุชูŽูˆูŽุงุตู‘ูู„ู‹ุง ุงูู„ูŽู‰ ุฌูŽู†ู‘ูŽุชููƒูŽ ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ุงู„ู†ู‘ูŽุนููŠู’ู…ู ุงู„ู’ู…ูู‚ููŠู’ู…ู ูˆูŽููู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู ุจูุฑูุกู’ูŠูŽุฉู ุฑูŽุจู‘ู ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽ.

ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุงุงุบู’ููุฑู’ู„ูŽู†ูŽุง ูˆูŽู„ูุงูุฎู’ูˆูŽุง ู†ูู†ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ุณูŽุจูŽู‚ููˆู’ู†ูŽ ุจูู„ู’ุงููŠู’ู…ูŽุงู†ู ูˆูŽู„ูŽุงุชูŽุฌู’ุนูŽู„ู’ ููู‰ ู‚ูู„ููˆู’ุจูู†ูŽุง ุบูู„ุงู‘ูŽ ู„ูู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ุงูŽู…ูŽู†ููˆู’ุง ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุงูู†ู‘ู‹ูƒูŽ ุฑูŽุคููู ุฑู‘ูŽุญููŠู’ู…ูŽ.

ูˆูŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ย  ุฎูŽูŠู’ุฑู ุฌูŽู„ู’ู‚ูู‡ู ุณูŽูŠู‘ูุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆู‘ูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุงูŽู„ูู‡ู ูˆูŽุตู’ุญูŽุจูู‡ู ุงูŽุฌู’ู…ูŽุนููŠู’ู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‡ู ุฑูŽุจู‘ูู„ู’ ุงู„ู’ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽ.


PENUTUP

Mudah-mudahan dengan adanya pembelajaran tentang bagaimana penyelenggaraan jenazah ini, dapat menambah pengetahuan bagi kita semua para pembacanya.

Dan mudah-mudahan Allah SWT meridhoi segala sesuatu yang kita perbuat di dalam kebaikan. Karena Rasululah SAW menyuruh kita untuk menyampaikan kebaikan itu walaupun hanya satu ilmu atau satu ayat

ุจูŽู„ู‘ูุบููˆู’ุง ุนูŽู†ู‘ููŠู’ ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุฃูŽูŠูŽุฉู‹

Artinya: โ€œsampaikanlah dariku walaupun satu ayatโ€.

Mudah-mudahan apa yang saya tuliskan ini dapat menambah manfaat bagi kita semua dan dapat menjadi ilmu bagi kita semua dan dapat kita amalkan dalam kehidupan bermasyarakat. Aminn Ya Rabbal โ€˜Alamin.

Hiwalah (Pemindahan Hutang)

Allah Swt berfirman,

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุงู’ ุฅูุฐูŽุง ุชูŽุฏูŽุงูŠูŽู†ุชูู… ุจูุฏูŽูŠู’ู†ู ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽุฌูŽู„ู ู…ูู‘ุณูŽู…ู‹ู‘ู‰ ููŽุงูƒู’ุชูุจููˆู‡ู ูˆูŽู„ู’ูŠูŽูƒู’ุชูุจ ุจูŽู‘ูŠู’ู†ูŽูƒูู…ู’ ูƒูŽุงุชูุจูŒ ุจูุงู„ู’ุนูŽุฏู’ู„

โ€œHai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benarโ€. (Q.S. Al-Baqarah 2 : 282)

[179]. Bermuamalah ialah seperti berjualbeli, hutang piutang atau sewa menyewa dan sebagainya.

A. PENGERTIAN

1. Menurut bahasa

Yang dimaksud hawalah ialah al-intiqal dan al-tahwil, artinya memindahkan atau mengalihkan. Abdurrahman al-Jaziri berpendapat bahwa yang dimaksud dengan hiwalah menurut bahasa adalah :

ุงู„ู†ู‚ู„ ู…ู† ู…ุญู„ ุงู„ู‰ ู…ุญู„

(Annaqlu min mahallin ilaa mahalli)

โ€œPemindahan dari suatu tempat ke tempat yang lainโ€. (al-Fiqh โ€˜ala madzahib al-Arbaโ€™ah, hal. 210)

2. Menurut syaraโ€™

Pengertian Hiwalah menurut syaraโ€™ (istilah) para ulama mendefinisikannya antara lain sebagai berikut :

a. Menurut Hanafiyah, yang dimaksud hiwalah adalah :

โ€œMemindahkan tagihan dari tanggung jawab yang berutang kepada yang lain yang punya tanggung jawab kewajiban pulaโ€

b. Menurut Maliki, Syafiโ€™i dan Hanbali, hiwalah adalah :

โ€œPemindahan atau pengalihan hak untuk menuntut pembayaran hutang dari satu pihak kepada pihak yang lainโ€.

Kalau diperhatikan, maka kedua definisi di atas bisa dikatakan sama. Perbedaannya terletak pada kenyataan bahwa madzhab Hanafi menekankan pada segi kewajiban membayar hutang. Sedangkan ketiga madzhab lainnya menekankan pada segi hak menerima pembayaran hutang.

B. LANDASAN HUKUM

1. Al-Qurโ€™an

Allah Swt berfirman, โ€œHai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benarโ€. (Q.S. Al-Baqarah 2 : 282)

2. As-Sunnah

Rasulullah Saw bersabda, โ€œMemperlambat pembayaran hutang yang dilakukan oleh orang kaya merupakan perbuatan zalim. Jika salah seorang kamu dialihkan kepada orang yang mudah membayar hutang, maka hendaklah beralih (diterima pengalihan tersebut). (HR Jamaโ€™ah)

Rasulullah Saw bersabda, โ€œOrang yang mampu membayar hutang haram atasnya melalaikan hutangnya. Apabila salah seorang di antara kamu memindahkan hutangnya kepada orang lain, hendaklah diterima pemindahan itu, asal yang lain itu mampu membayarโ€. (HR Ahmad & Baihaqi)

3. Ijmaโ€™

Kesepakatan ulama (ijmaโ€™) menyatakan bahwa hiwalah boleh dilakukan

C. JENIS HIWALAH

Madzhab Hanafi membagi hiwalah dalam beberapa bagian :

1. Ditinjau dari segi objek akad, hiwalah dibagi menjadi 2 jenis :

a. Hiwalah al-haqq yaitu apabila yang dipindahkan itu merupakan hak menuntut hutang (pemindahan hak).

b. Hiwalah al-dain yaitu apabila yang dipindahkan itu kewajiban untuk membayar hutang (pemindahan hutang/kewajiban).

2. Ditinjau dari jenis akad, hiwalah dibagi menjadi 2 jenis :

a. Hiwalah al-Muqayyadah yaitu pemindahan sebagai ganti dari pembayaran hutang muhil (pihak pertama) kepada muhal/pihak kedua (pemindahan bersyarat)

Contoh :

A berpiutang kepada B sebesar 5 dirham. Sedangkan B berpiutang kepada C sebesar 5 dirham. B kemudian memindahkan atau mengalihkan haknya untuk menuntut piutangnya yang berada pada C kepada A sebagai ganti pembayaran hutang B kepada A.

Dengan demikian hiwalah al-muqayyadah pada satu sisi merupakan hiwalah al-haq karena mengalihkan hak menuntut piutangnya dari C ke A (pemindahan hak). Sedangkan pada sisi lain, sekaligus merupakan hiwalah al-dain karena B mengalihkan kepada A menjadi kewajiban C kepada A (pemindahan hutang/kewajiban).

b. Hiwalah al-Muthlaqah yaitu pemindahan hutang yang tidak ditegaskan sebagai ganti rugi dari pembayaran hutang muhil (pihak pertama) kepada muhal/pihak kedua (pemindahan mutlak).

Contoh :

A berhutang kepada B sebesar 5 dirham. Kemudian A mengalihkan hutangnya kepada C sehingga C berkewajiban membayar hutang A kepada B tanpa menyebutkan bahwa pemindahan hutang tersebut sebagai ganti rugi dari pembayaran hutang C kepada A.

Dengan demikian, hiwalah al-muthlaqah hanya mengandung hiwalah al-dain saja karena yang dipindahkan hanya hutang A kepada B menjadi hutang C kepada B.

D. RUKUN HAWALAH

Menurut madzhab Hanafi, rukun hiwalah hanya ijab (pernyataan yang melakukan hiwalah) dari muhil (pihak pertama) dan Kabul (pernyataan menerima hiwalah) dari muhal (pihak kedua) kepada muhal โ€˜alaih (pihak ketiga).

Menurut madzhab Maliki, Syafiโ€™i dan Hambali, rukun hiwalah ada 6 :

1. Pihak pertama (muhil) yaitu orang yang menghiwalahkan (memindahkan) utang

2. Pihak kedua (muhal) yaitu orang yang dihiwalahkan (orang yang mempunyai utang kepada muhil)

3. Pihak ketiga (muhal โ€˜alaih) yaitu orang yang menerima hiwalah

4. Ada piutang muhil kepada muhal

5. Ada piutang muhal โ€˜alaih kepada muhil

6. Ada sighat hiwalah yaitu ijab dari muhil dengan kata-katanya, โ€œAku hiwalahkan utangku yang hak bagi engkau kepada fulanโ€ dan kabul dari muhal dengan kata-katanya, โ€œAku terima hiwalah engkauโ€. (Ahmad Idris, Fiqh al-Syafiโ€™iayah, hal. 57-58)

E. SYARAT HIWALAH

Semua Imam madzhab (Maliki, Hanafi, Syafiโ€™i dan Hanbali) menyatakan bahwa hiwalah menjadi sah apabila sudah terpenuhi syarat-syarat yang berkaitan dengan muhil (pihak pertama), muhal dan muhal โ€˜alih serta berkaitan dengan hutang tersebut.

1. Syarat bagi muhil (pihak pertama) adalah :

a. Baligh dan berakal

Hiwalah tidak sah dilakukan oleh anak kecil walaupun ia sudah mengerti (mumayyiz) ataupun dilakukan oleh orang gila.

b. Ridha

Jika muhil (pihak pertama) dipaksa untuk melakukan hiwalah maka akad tersebut tidak sah.

2. Syarat bagi muhal (pihak kedua) adalah :

a. Baligh dan berakal

b. Ada persetujuan (ridha) dari muhal terhadap muhil yang melakukan hiwalah (madzhab Hanafi, sebagian besar madzhab Maliki dan Syafiโ€™i)

Persyaratan ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan bahwa kebiasaan orang dalam membayar hutang berbeda-beda, ada yang mudah dan ada pula yang sulit. Sedangkan menerima pelunasan itu merupakan hak muhal.

Jika hiwalah dilakukan secara sepihak saja, muhal dapat saja merasa dirugikan, contohnya apabila ternyata muhal โ€˜alaih (pihak ketiga) sudah membayar hutang tersebut.

3. Syarat bagi muhal โ€˜alaih (pihak ketiga) adalah :

a. Baligh dan berakal

b. Ada persetujuan (ridha) dari muhal โ€˜alaih (madzhab Hanafi). Sedangkan menurut madzhab lainnya (Maliki, Syafiโ€™i dan Hanbali) tidak mensyaratkan hal ini sebab dalam akad hiwalah, muhal โ€˜alaih dipandang sebagai objek akad. Dengan demikian persetujuan tidak merupakan syarat sah hiwalah.

4. Syarat yang diperlukan bagi hutang yang dialihkan adalah :

a. Sesuatu yang dialihkan itu adalah sesuatu yang sudah dalam bentuk hutang piutang yang sudah pasti.

b. Apabila pengalihan utang itu dalam bentuk hiwalah al-muqayyadah, semua ulama fikih sepakat bahwa baik hutang muhil kepada muhal maupun muhal โ€˜alaih kepada muhil harus sama jumlah dan kualitasnya.

Jika antara kedua utang tersebut terdapat perbedaan jumlah (hutang dalam bentuk uang) atau perbedaan kualitas (hutang dalam bentuk barang) maka hawalah tidak sah.

Tetapi apabila pengalihan itu dalam bentuk hiwalah al-muthlaqah (madzhab Hanafi) maka kedua hutang tersebut tidak mesti sama, baik jumlah maupun kualitasnya.

c. Madzhab Syafiโ€™i menambahkan bahwa kedua hutang tersebut harus sama pula waktu jatuh temponya. Jika tidak sama maka tidak sah.

F. KONSEKUENSI AKAD HIWALAH

1. Jumhur ulama berpendapat bahwa kewajiban muhil untuk membayar hutang kepada muhal dengan sendirinya menjadi terlepas (bebas). Sedangkan menurut sebagian ulama madzhab Hanafi antara lain Kamal bin Humman, kewajiban tersebut masih tetap ada selama pihak ketiga belum melunasi hutangnya kepada muhal.

2. Akad hiwalah menyebabkan lahirnya hak bagi muhal untuk menuntut pembayaran hutang kepada muhal โ€˜alaih

3. Madzhab Hanafi yang membenarkan terjadinya hiwalah al-muthlaqah berpendapat bahwa jika akad hiwalah al-muthlaqah terjadi karena inisiatif dari muhil maka hak dan kewajiban antara muhil dan muhal โ€˜alaih yang mereka tentukan ketika melakukan akad hutang piutang sebelumnya masih tetap berlaku, khususnya jika jumlah hutang piutang antara ketiga pihak tidak sama

G. AKAD HIWALAH BERAKHIR

Akad hawalah berakhir jika terjadi hal-hal berikut :

1. Salah satu pihak yang melakukan akad tersebut membatalkan akad hiwalah sebelum akad itu berlaku secara tetap.

2. Muhal melunasi hutang yang dialihkan kepada muhal โ€˜alaih

3. Jika muhal meninggal dunia, sedangkan muhal โ€˜alaih merupakan ahli waris yang mewarisi harta muhal.

4. Muhal โ€˜alaih menghibahkan atau menyedekahkan harta yang merupakan hutang dalam akad hiwalah tersebut kepada muhal.

5. Muhal membebaskan muhal โ€˜alaih dari kewajibannya untuk membayar hutang yang dialihkan tersebut.

6. Menurut madzhab Hanafi, hak muhal tidak dapat dipenuhi karena pihak ketiga mengalami pailit (bangkrut) atau wafat dalam keadaan pailit. Sedangkan menurut madzhab Maliki, Syafiโ€™i dan Hanbali selama akad hiwalah sudah berlaku tetap karena persyaratan sudah dipenuhi maka akad hiwalah tidak dapat berakhir dengan mengalami alasan pailit.

Iklan